Selasa, 30 Oktober 2012

KINERJA WASIT DI PREMIER LEAGUE

WASIT, OH WASIT



Matchday 9 Liga Primer Inggris diwarnai serangkaian hasil pertandingan yang tak lepas dari ‘andil’ sang pengadil lapangan. Setidaknya ada tiga laga besar yang diwarnai kontroversi terkait kepemimpinan wasit, yakni Chelsea-Manchester United, Everton-Liverpool dan Arsenal-QPR.


 Riwayat Howard Webb yang selama ini dikenal sebagai ‘juru selamat’ Manchester United tampaknya akan diteruskan oleh sosok wasit muda berusia 37 tahun, Mark Clattenburg. Bagaimana tidak, berkat beberapa keputusan kontroversial yang dikeluarkannya, Si Setan Merah yang sebelumnya berada dalam situasi tertekan, akhirnya mampu mengungguli The Blues yang tampil tak berdaya setelah dua orang pemainnya diusir keluar lapangan.
 




Seperti diketahui, Man. United sempat memimpin 2-0 di 12 menit pertama. Namun, secara superior Chelsea bisa bangkit dan menyamakan kedudukan lewat gol Juan Mata dan Ramires di menit 44 dan 57. Berhasil menyamakan skor, momentum kemenangan berpindah ke pihak tuan rumah. Mengandalkan kreatifitas Juan Mata, Eden Hazard dan Oscar, Chelsea tampil dominan dan mengurung pertahanan Man. United.

Memasuki menit 63, Clattenburg mulai ‘beraksi’. Bratislav Ivanovic diberi kartu kuning kedua, setelah dianggap mengganjal Ashley Young yang sedang berlari mendekati kotak penalti. Dari tayangan ulang, sangat minim kontak yang terjadi antara keduanya. Jatuhnya Young pun lebih tampak dikarenakan kehilangan keseimbangan dibanding karena ganjalan dari Ivanovic.

Hanya lima menit berselang, Chelsea yang sebenarnya tetap tampil dominan meski bermain dengan 10 pemain, harus kembali kehilangan satu pemainnya. Fernando Torres yang sebelumnya telah mengantongi kartu kuning, diusir keluar lapangan karena dinilai wasit melakukan diving.



Memang tekel yang dilakukan oleh Jonny Evans terhadap Torres tampak terlalu sepele untuk menjadi sebuah pelanggaran. Namun, wasit sedikit berlebihan dalam menanggapi insiden tersebut. Fakta bahwa Torres telah mendapat kartu kuning sebelumnya – dan jatuhnya juga tak selebay Luis Suarez saat menghadapi Stoke City beberapa waktu lalu – mestinya membuat Clattenburg bisa lebih arif dalam mengambil keputusan. Membiarkan permainan tetap play on atau paling tidak memberi teguran sebenarnya sudah cukup untuk menghukum El Nino.

Kontroversi tak berhenti sampai disitu. Di menit 75, Clattenburg dibantu hakim garis mengsahkan gol Javier “Chicharito” Hernandez, yang dari tayangan ulang tampak jelas berdiri di belakang orang terakhir Chelsea, saat Rafael melepaskan tembakan yang mengarah kepadanya. Gol tersebut sekaligus menjadi penentu kemenangan pasukan Sir Alex Ferguson.

Duel derby Merseyside yang mempertemukan tuan rumah Everton melawan Liverpool juga tak lepas dari kontroversi. Skor imbang 2-2 terjadi hingga memasuki masa injury time babak kedua. Memasuki empat menit perpanjangan waktu, sebuah umpan lambung mengarah ke kotak penalti dan menerima umpan sundulan dari rekannya, Suarez berhasil menyontek bola masuk ke gawang Everton. Suarez merayakan gol, namun hakim garis mengangkat bendera tanda dirinya telah berada dalam posisi off-side. Tampak jelas di tayangan ulang, gol tersebut bersih, tanpa ada sedikitpun pelanggaran dan semua pemain Liverpool termasuk Suarez berada dalam posisi on-side.



Sehari sebelumnya, di Emirates Stadium. Arsenal meraih kemenangan tipis 1-0 atas tamunya QPR. Kali ini kisahnya terbalik dengan apa yang dialami Suarez. Mikel Arteta yang menjadi pencetak satu-satunya gol di laga itu, justru tampak berdiri off-side tepat saat Olivier Giroud melakukan sundulan yang mengawali proses terjadinya gol di menit 84 tersebut.



Imbas dari segala bentuk kontroversi di akhir pekan tersebut, tak ayal jutaan orang di seluruh dunia langsung meramaikan berbagai situs jejaring sosial dengan gojekan-gojekan maupun kritikan pedas yang menyinggung kualitas para korps baju hitam di Liga Primer Inggris.

Sangat disayangkan bahwa di kompetisi yang dibangga-banggakan sebagai liga terbaik di dunia saat ini, kesalahan-kesalahan mendasar para pengadil pertandingan – yang parahnya bisa menentukan hasil akhir pertandingan – masih kerap terjadi. Khusus di laga Chelsea kontra Manchester United, buruknya kepemimpinan Mark Clattenburg sukses menurunkan level mendebarkan laga tersebut. Pertandingan yang tadinya berlangsung terbuka, sontak berubah menjadi laga timpang, yang seakan sudah bisa diprediksi hasil akhirnya.

Dilema memang saat kritikan-kritikan terhadap buruknya kualitas kepemimpinan wasit harus terbentur pada frase lawas bahwa ‘wasit juga manusia’. Ya, wasit memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas keputusan-keputusan kontroversial yang dibuat di atas lapangan. Pertama, sudut pandang wasit di atas lapangan tentu tidak sejelas kita sebagai penonton yang menyaksikan pertandingan melalui televisi. Kemudian, keterbatasan sebagai manusia juga harus dimaklumi sebagai faktor yang tidak bisa dikeluhkan.



Namun bila dihadapkan pada fenomena bahwa sepakbola kini berkembang semakin pesat sebagai sebuah olahraga (dan industri) yang makin kompleks dan penuh intrik, harapan tinggi para penggemar sepakbola terhadap profesionalisme dan kesempurnaan dari wasit dinilai sebagai sesuatu yang sangat wajar dan memang sudah seharusnya. Bukannya mereka memang dibayar untuk berlaku adil?.
Standar kualitas wasit profesional tentunya harus bergerak naik seiring berkembangnya zaman. Penggunaan teknologi pembantu juga diharapkan segera terwujud secara lebih menyeluruh. Harapannya jelas, agar tak ada lagi hasil pertandingan yang ditentukan oleh keputusan-keputusan kontroversial wasit di atas lapangan. Bayangkan, satu kesalahan kecil dari sang pengadil, bisa berdampak signifikan dalam menentukan hasil suatu pertandingan, dan yang terburuk bisa mempengaruhi berjalannya musim kompetisi.

Well then, apapun dan bagaimanapun, kita sebagai penikmat olahraga terpopuler di dunia ini hanya bisa berharap agar kesalahan-kesalahan serupa yang dilakukan oleh para pengadil di lapangan tidak terulang kembali, dan kita bisa kembali disuguhi hiburan pertandingan sepakbola yang sebenarnya: sebelas lawan sebelas.


(from: http://supersoccer.co.id )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar